Tuesday, March 23, 2010

keputusan labil

Hari ini aku disapa kenyataan-kenyataan pahit yang setengah mati berusaha kusembunyikan. Realita-realita busuk yang selalu kubalas dengan positive thinking, namun selalu saja kembali dengan wujud yang sama.

Hari ini aku dikalahkan oleh fakta hidup yang selalu kuhadapi dengan senyuman dan ketabahan luar biasa sebelumnya. Hari ini aku sukses ditikam ilusi yang belum tentu terjadi, tapi berpeluang terjadi. Bagus. Selamat, nak. Aku sudah bersimbah darah kasat mata sekarang. Kau tertawa, bukan?

Hari ini aku diserang lara luar biasa. Tertampar kalimat-kalimat disekitarku. Mereka benar, skandal busuk itu bisa terjadi kapan saja, tak perlu menunggu pertahananku siap atau tidak. Ah ternyata selama ini aku membalut semua
indera dengan optimisme yang terlalu ketat. Kurasa aku benar-benar jauh dari siap.

Dua puluh tujuh, atau paling tidak tiga puluh satu.

Aku berjanji demi apapun, itu akhir penantianku, ujung optimisme tidak masuk akalku, hari selebrasiku atas kehilangan dan hari kebebasan atas hati. (Semoga) Aku siap.